MAKALAH
TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN KOGNITIVISTIK DALAM PEMBELAJARAN
IPS

Dosen Pembimbing :
DODIK EKO YULIANTO, S.Pd
Disusun Oleh :
HIMMATUL HIDAYAT
IIS WAHYUNI
MELINDA TRIYASARI
ERFAN ADI RACHMAN
SYAIFUL ARIFIN
FAKULTAS PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
(PGSD) S1
(PGSD) S1
UNIVERSITAS ABDURRACHMAN SALEH
SITUBONDO
SITUBONDO
2014
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ke
hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan berkat dan kesehatan kepada
kami, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan penuh susah payah.
Makalah ini disusun guna melengkapi tugas dalam mata kuliah Pendidikan IPS
Fakultas Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Abdurachman Saleh.
Namun dibalik semua itu kami hanya
bisa mengambil makna dan manfaat yg tak ada duanya. Dalam kesempatan kali ini
kami membuat makalah dengan tema “TEORI-TEORI BELAJAR DAN PENERAPANNYA DALAM
PEMBELAJARAN IPS” yang Insya Alllah bisa membantu para pembaca untuk bisa
mengetahui secara detil dan dapat memahami teori-teori yang perlu digunakan
dalam pembelajaran IPS ini, yang akan kami bahas dalam sebuah makalah yang
sangat sederhana ini.
Walaupun banyak kesulitan yang harus
kami hadapi ketika menyusun makalah ini, namun berkat bantuan dan dorongan dari
berbagai pihak, akhirnya kami bisa menyelesaikan dengan baik.
Selamat membaca……..!!!
Situbondo, 13 Mei 2014
- Penulis -
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab 1 : Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
1.2
Tujuan
Penulisan
Bab
2 : Pembahasan
2.1 Teori
belajar behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran IPS
2.2
Teori Belajar Menurut Para Ahli
2.3
Analisis Tentang Teori Behavioristik
2.4
Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran IPS
2.5
Teori belajar Kognitifistik dan Penerapannya dalam Pembelajaran IPS
Bab
3 : Penutup
3.1
Kesimpulan
Daftar Pustaka
BAB 1
PENADHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Pendidikan
merupakan masalah penting dalam kehidupan manusia, karena dengan adanya
pendidikan berarti akan melahirkan manusia yang kreatif dan mempunyai ide-ide
yang cemerlang dalam mengisi masa depan yang lebih maju. Potensi yang ada pada
diri manusia akan berkembang menjadi pribadi yang baik, apabila dia manfaatkan
dengan sebaik mungkin kearah yang positif. Dan manusia melalui pendidikan dapat
memperoleh sebagian besar kemampuannya melalui belajar. Belajar adalah suatu
peristiwa yang terjadi didalam kondisi-kondisi tertentu yang dapat diamati,
diubah dan dikontrol. Kemampuan manusia yang dikembangkan melalui belajar
yaitu: ketrampilan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif,
ketrampilan motorik, dan sikap.
Seiring dengan
perkembangan kebutuhan masyarakat baik lokal maupun global, serta perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi maka diadakan pengembangan di bidang pendidikan.
Kurikulum terus berubah karena potensi siswa, kondisi pendidikan, persaingan
global, persaingan pada kemampuan SDM dan persaingan terjadi pada lembaga pendidikan.
Metode
behaviorisme ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan
praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : kecepatan,
spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya:
percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang,
olahraga dan sebagainya.
Teori kaum
behavorisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku
manusia adalah hasil belajar. Dalam arti teori belajar lebih menekankan pada
tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi
respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku
mereka.
Pendidik
sebagai penanggungjawab utama dalam perbaikan proses pembelajaran dan
fasilitator peserta didik dalam belajar dituntut untuk memiliki kemampuan yang
lebih agar tujuan pembelajaran yang di laksanakan dapat tercapai dengan
sebaik-baiknya.
Pembelajaran
adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan terkendali agar orang lain
belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap pada diri orang lain. Usaha
ini dapat dilakukan oleh individu atau kelompok yang memiliki kemampuan dan
kompetensi dalam merancang atau mengembangkan sumber belajar. Belajar adalah
proses alami yang menyebabkan perubahan apa yang kita ketahui, apa yang bisa
kita lakukan, dan bagaimana kita berperilaku. Namun, salah satu fungsi dari
suatu sistem pendidikan adalah untuk memfasilitasi pembelajaran yang dalam
rangka mencapai tujuan instruksi.
Pendidik
dituntut untuk menyediakan kondisi belajar untuk peserta didik untuk mencapai
kemampuan-kemampuan tertentu yang harus dipelajari oleh subyek didik. Dalam hal
ini peranan desain pesan dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena
desain pesan pembelajaran menunjuk pada proses memanipulasi, atau merencanakan
suatu pola atau signal dan lambang yang dapat digunakan untuk menyediakan
kondisi untuk belajar.
Sedangkan
mengajar adalah proses yang dilakukan guru dalam mengadakan interaksi dengan
peserta didik, dengan penekanan pada berbagai macam kegiatan. Seorang pendidik
yang memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip desain instruksi memiliki
visi yang lebih luas tentang apa yang dibutuhkan untuk membantu peserta didik
belajar.
Instruksi lebih
mungkin menjadi efektif jika direncanakan untuk melibatkan para siswa dalam
kegiatan yang memfasilitasi pembelajaran. Dengan menggunakan prinsip-prinsip
desain instruksi, guru dapat memilih, atau merencanakan dan mengembangkan
kegiatan terbaik untuk membantu siswa belajar.
1.2
TUJUAN
PENULISAN
1.
Memahami pengertian dari Behaviorisme dan kognitifisme.
2.
Memahami implikasi dalam
behaviorisme dan kognitifisme melalui kasus pembelajaran.
3.
Memahami teori
yang akan di terapkan dalam pembelajaran IPS.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Teori belajar behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran
IPS
Teori belajar
behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner
tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Teori ini lalu
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai
aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang
tampak sebagai hasil belajar.
Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar
merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin,
2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan
perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah
input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa
saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau
tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses
yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena
tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus
dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa
yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk
melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain
yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement).
Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin
kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement)
maka respon juga semakin kuat.
Beberapa
prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and
Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of
Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant
Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh
aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin
Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran
behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
2.2
Teori Belajar Menurut Para Ahli
1. Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut
Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus
adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan
respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat
pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah
laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati,
atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme
sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara
mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut
pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum
belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan
dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan
bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
2. Teori Belajar Menurut Watson
Watson
mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon,
namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan
dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental
dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor
tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat
diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang
belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang
sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat
diamati dan diukur.
3. Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga
menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan
pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles
Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku
bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh
sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan
biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam
seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam
belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon
yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku
juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis
(Bell, Gredler, 1991).
4. Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas belajar
Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus
yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti
oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel
hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar.
Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi
stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar
hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan
mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon
bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu
sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat
lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment)
memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat
yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama
dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara
tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam
mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh
anak (Bell, Gredler, 1991).
5. Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep
yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh
sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih
komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi
melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan
tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh
sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu,
karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi
antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang
diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah
yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu
dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan
antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin
dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon
tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan
perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya
akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu
penjelasan lagi, demikian seterusnya.
2.3
Analisis Tentang Teori Behavioristik
Kaum behavioris
menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana
reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam
berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya
merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian
kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian
tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul,
1997).
Pandangan teori
behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua
teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap
perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti
Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program
pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta
mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program
pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik
banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang
kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan
dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan
respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Pandangan
behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi
pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan
ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan
pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu
pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat
kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon
yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau
perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
Teori
behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier,
konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar
merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau
mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas
berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses
belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
2.4
Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran IPS
Aliran
psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan
teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran
behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus
responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon
atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata.
Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan
menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori
behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
IPS tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat
materi pelajaran, karakteristik pelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang
tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik
memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah.
Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan
pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of
knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran
adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses
berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari
proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan
tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap
pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru
itulah yang harus dipahami oleh murid.
Demikian halnya
dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu
membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para
pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan
standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para
pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya
pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak
teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.
Implikasi dari
teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang
gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan
mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut
bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga
terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu
untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Karena teori
behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur,
maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang
jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin
menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak
dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam
penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan
keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang
pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai
penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang
berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh
sistem yang berada di luar diri pebelajar.
Tujuan
pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan
pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut
pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam
bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan
pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari
bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat,
sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib
dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku
wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi
menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya
menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang
benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan
guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya.
Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan
pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran.
Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.
2.5
Teori belajar Kognitifistik dan Penerapannya dalam Pembelajaran IPS
Tidak seperti
halnya belajar menurut perspektif behavioris dimana perilaku manusia tunduk
pada peneguhan dan hukuman, pada perspektif kognitif ternyata ditemui tiap
individu justru merencakan respons perilakunya, menggunakan berbagai cara yang
bisa membantu dia mengingat serta mengelola pengetahuan secara unik dan lebih
berarti. Teori belajar yang berasal dari aliran psikologi kognitif ini menelaah
bagaimana orang berpikir, mempelajari konsep dan menyelesaikan masalah. Hal
yang menjadi pembahasan sehubungan dengan teori belajar ini adalah tentang
jenis pengetahuan dan memori.
1. Jenis Pengetahuan
Menurut
pendekatan kognitif yang mutakhir, elemen terpenting dalam proses belajar
adalah pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu kepada situasi belajar.
Dengan kata lain apa yang telah kita diketahui akan sangat menentukan apa yang
akan menjadi perhatian, dipersepsi, dipelajari, diingat ataupun dilupakan.
Pengetahuan bukan hanya hasil dari proses belajar sebelumnya, tapi juga akan
membimbing proses belajar berikutnya. Berbagai riset terapan tentang hal ini
telah banyak dilakukan dan makin membuktikan bahwa pengetahuan dasar yang luas
ternyata lebih penting dibanding strategi belajar yang terbaik yang tersedia
sekalipun. Terlebih bila pengetahuan dan wawasan yang luas ini disertai dengan
strategi yang baik tentu akan membawa hasil lebih baik lagi tentunya.
Perspektif
kognitif membagi jenis pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu:
• Pengetahuan Deklaratif, yaitu pengetahuan
yang bisa dideklarasikan biasanya dalam bentuk kata atau singkatnya pengetahuan
konseptual.
• Pengetahuan Prosedural, yaitu pengetahuan
tentang tahapan yang harus dilakukan misalnya dalam hal pembagian satu bilangan
ataupun cara kita mengemudikan sepeda, singkatnya “pengetahuan bagaimana”.
• Pengetahuan Kondisional, adalah pengetahuan
dalam hal “kapan dan mengapa” pengetahuan deklaratif dan prosedural digunakan.
Pengetahuan
deklaratif rentangnya sangat beragam, bisa berupa pengetahuan tentang fakta
(misalnya, bumi berputar mengelingi matahari dalam kurun waktu tertentu),
generalisasi (setiap benda yang di lempar ke angkasa akan jatuh ke bumi karena
adanya gaya gravitasi), pengalaman pribadi (apa yang diajarkan oleh guru sains
secara menyenangkan) atau aturan (untuk melakukan operasi penjumlahan dan
pengurangan pada pecahan maka pembilang harus disamakan terlebih dahulu).
Menyatakan
proses penjumlahan atau pengurangan pada bilangan pecahan menunjukkan
pengetahuan deklaratif, namun bila siswa mampu mengerjakan perhitungan tersebut
maka dia sudah memiliki pengetahuan prosedural. Guru dan siswa yang mampu
menyelesaikan soal melalui rumus tertentu atau menterjemahkan teks bahasa
Inggris adalah contoh kemampuan pengetahuan prosedural lainnya. Seperti halnya
siswa yang mampu berenang dalam satu gaya tertentu, berarti dia sudah menguasai
pengetahuan prosedural hal tersebut, dengan kata lain penguasaan pengetahuan
ini juga dicirikan oleh praktek yang dilakukan.
Sedangkan
pengetahuan kondisional adalah kemampuan untuk dapat mengaplikasikan kedua
jenis pengetahuan di atas. Dalam menyelesaikan persoalan perhitungan kimia
misalnya, siswa harus dapat mengidentifikasi terlebih dahulu persamaan apa yang
perlu dipakai (pengetahuan deklaratif) sebelum melakukan proses perhitungan
(pengetahuan prosedural). Pengetahuan kondisional ini jadinya merupakan hal
yang penting dimiliki siswa, karena menentukan penggunaan konsep dan prosedur
yang tepat. Terkadang siswa mengetahui fakta dan dapat melakukan satu prosedur
pemecahan masalah tertentu, namun sayangnya mengaplikasikannya pada waktu dan
tempat yang kurang tepat.
Hal yang sangat
penting jadinya untuk mengidentifikasi jenis pengetahuan ini bagi guru ketika
mengajar. Mempelajari informasi tentang pokok bahasan tertentu tidak selalu
menyebabkan siswa akan menggunakan informasi tersebut. Tidak juga latihan
menyelesaikan banyak soal pada topik bahasan tertentu, akan membantu mereka
memahami satu prinsip lebih mendalam. Mengetahui sesuatu topik, mengetahui
prosedural penyelesaian masalah serta tahu kapan dan mengapa menggunakan
pengetahuan tersebut adalah hasil belajar yang berbeda-beda, dan tentu saja ini
perlu diajarkan dengan cara yang berbeda pula.
2. Model Pengolahan Informasi
Untuk
menggunakan tiga jenis pengetahuan di atas, tentunya kita harus dapat
mengingatnya dengan baik. Hal berikutnya teori belajar yang dibahas dalam
perspektif kognitif ini adalah tentang bagaimana individu mengingat dan bagian
apa saja dari memori yang bekerja dalam proses berpikir seperti pada pemecahan
masalah. Model pengolahan informasi merupakan salah satu model dari perspektif
teori belajar ini yang menjelaskan kerja memori manusia sesuai dengan analogi
komputer, yang meliputi tiga macam sistem penyimpanan ingatan: memori sensori,
memori kerja dan memori jangka panjang.
1. Memori
Sensori adalah sistem mengingat stimuli secara cepat sehingga analisis persepsi
dapat terjadi.
2. Memori Kerja atau memori jangka pendek,
menyimpan lima sampai sembilan informasi pada satu waktu sampai sekitar 20
detik, yang cukup lama untuk pengolahan informasi terjadi. Informasi yang dikodekan
(decode) serta persepsi tiap individu akan menentukan apa yang perlu disimpan
di memori kerja ini.
3. Memori Jangka Panjang menyimpan informasi
yang sangat besar dalam waktu yang lama. Informasi di dalamnya disimpan dalam
bentuk secara verbal dan visual.
Memori Sensori
Memori sensori
adalah sistem yang bekerja seketika melalui alat indera dinama kita memberikan
arti kepada stimuli yang datang dinamakan persepsi. Arti yang diberikan berasal
dari realitas objektif serta dari pengetahuan kita sebelumnya. Contohnya, suatu
symbol ‘l’ akan dipersepsi sebagai huruf alpabet tertentu kalau kita
menggolongkannya dalam urutan j, k. l, m; namun dalam kesempatan berbeda
seperti l, 2, 3, 4 maka symbol yang sama bermakna angka satu. Memori sensori
akan menangkap stimuli dan mempersepsi, atau memberikan makna; dalam hal ‘l’
konteks dan pengetahuan kita akan menentukan makna yang akan diberikan, bagi
seseorang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang angka atau huruf, maka
symbol itu kemungkinan tidak bermakna apapun. Misalnya teks yang Anda baca saat
ini akan dipersepsi berbeda oleh orang lain yang tidak mengerti bahasa
Indonesia ataupun yang buta huruf, walaupun matanya melihat deretan simbol yang
sama seperti Anda; ataupun saat kita membaca huruf kanji dari koran berbahasa
Jepang dimana kita tidak punya kemampuan untuk memahaminya. Memori sensori
tidak hanya bekerja untuk simbol saja namun juga dalam hal warna, gerakan,
suara, bau, suhu dan lainnya yang semuanya harus dipersepsi secara simultan.
Namun karena keterbatasan kemampuan, kita hanya dapat memfokuskan pada beberapa
stimuli saja dan mengingkari yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian
sangatlah selektif; dengan kata lain saat perhatian penuh sangat diperlukan,
biasanya stimuli lainnya akan ditolak.
Perhatian adalah tahap pertama dalam
belajar. Siswa tidak dapat memahami apa yang mereka tidak kenali atau tidak
dapat dipersepsi. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi perhatian siswa.
Tampilan atau aksi yang dramatis dapat mencuri perhatian siswa pada awal
pembelajaran. Cara lainnya adalah melalui perlakuan pada kata yang diucapkan
atau ditulis oleh guru dengan warna yang kontras, digaris bawahi atau ditandai;
memangil siswa secara acak, memberikan kejutan siswa, menanyakan hal yang
menantang, memberikan masalah yang dilematis, mengubah metoda mengajar dan
tugas, mengubah frekuensi suara dan jedanya akan dapat membantu menarik
perhatian dari siswa. Namun menarik perhatian siswa adalah hal pertama, membuat
mereka untuk tetap fokus pada pelajaran dan tugasnya juga hal yang kritis
berikutnya harus dilakukan oleh guru.
BAB 3
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Teori belajar
behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner
tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Teori ini lalu
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai
aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang
tampak sebagai hasil belajar.
Behaviorisme
adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan
oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat
diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi
yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau
mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang
diinginkan.
Guru yang
menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi
terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. Aliran behaviorisme
dalam psikologi sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat di
amati. Psikologi yang juga merupakan bagian dari ilmu alam yang menekankan pada
perilaku manusia, perbuatan, dan ucapannya baik yang dipelajari maupun yang
tidak sebagai pokok masalah.
Sedangkan pada perspektif kognitif ternyata ditemui tiap individu
justru merencakan respons perilakunya, menggunakan berbagai cara yang bisa
membantu dia mengingat serta mengelola pengetahuan secara unik dan lebih
berarti. Teori belajar yang berasal dari aliran psikologi kognitif ini menelaah
bagaimana orang berpikir, mempelajari konsep dan menyelesaikan masalah. Hal
yang menjadi pembahasan sehubungan dengan teori belajar ini adalah tentang
jenis pengetahuan dan memori.
DAFTAR PUSTAKA
id.wikipedia.org/wiki/Teorri_Belajar_Behavioristik.
Fachri, Kamal.2009.
Susanto,
Agus.2010.Teori Behavioristik dalam Pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar