MAKALAH
PENDEKATAN,METODE,MODEL,STRATEGI dan TEKNIK
PEMBELAJARAN SD
Dosen Pembimbing : Putra Johan Bahagia,
Disusun oleh :
Kelompok 2:3A PGSD
1.
Iis wahyuni (201210017)
2.
Riska Puspita Widayanti (201210035)
3.
Ika Ismiyatul Khofi (201210050)
PROGRAM
STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
ABDURRACHMAN SALEH
SITUBONDO
2013/2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta
taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah Pendidikan IPS ini
sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Dan juga kami berterima kasih
pada Bapak Putra Johan
Bahagia yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna
dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Pendidikan IPS SD. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa
di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami
harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi
siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat
berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon
maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon
kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan.
Situbondo
, 04 Oktober 2013
Penyusun
Kelompok 2
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I Pendahuluan……………………………………………………………………………..
1.1 Latar belakang…………………………………………………………………………...
1.2 Rumusan
Masalah……………………………………………………………………….
1.3 Tujuan
Masalah………………………………………………………………………….
BAB II Pembahasan……………………………………………………………………………..
2.1 Pendekatan
Pembelajaran………………………………………………………………...
2.2 Metode Belajar
Mengajar…………………………………………………………….......
2.3 Teknik
Pembelajaran……………………………………………………………………..
2.4 Model Pembelajaran………………………………………………………………………
2.5 Strategi
Pembelajaran……………………………………………………………………..
BAB III Penutup…………………………………………………………………….....................
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia terus diupayakan dan
dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman yang semakin global. Peningkatan
sumber daya manusia ini juga berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pendidikan
yang merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa
berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya
pengembangan pendidikan tersebut harus sesuai dengan proses pengajaran yang
tepat agar anak didik dapat menerima pelajaran dengan baik.
Proses
pengajaran akan lebih hidup dan menjalin kerjasama diantara siswa, maka proses
pembelajaran dengan paradigma lama harus diubah dengan paradigma baru yang
dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam berpikir, arah pembelajaran yang
lebih kompleks tidak hanya satu arah sehingga proses belajar mengajar akan
dapat meningkatkan kerjasama diantara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa,
maka dengan demikian siswa yang kurang akan dibantu oleh siswa yang lebih
pintar sehingga proses pembelajaran lebih hidup dan hasilnya lebih baik.
Dalam kegiatan pembelajaran tidak
terlepas dari berbagai variabel pokok yang saling berkaitan yaitu kurikulum,
guru/pendidik, pembelajaran, peserta. Dimana semua komponen ini bertujuan untuk
kepentingan peserta. Berdasarkan hal tersebut pendidik dituntut harus mampu
menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran agar peserta didik dapat melakukan
kegiatan belajar dengan menyenangkan. Hal ini dilatar belakangi bahwa peserta
didik bukan hanya sebagai objek tetapi juga merupakan subjek dalam
pembelajaran. Peserta didik harus disiapkan sejak awal untuk mampu
bersosialisasi dengan lingkungannya sehingga berbagai jenis pendekatan
pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik.
Berdasarkan pandangan diatas, maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana
upaya guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan pendekatan yang tepat.
Salah satu solusinya yaitu dengan mengembangkan suatu pendekatan pembelajaran
yang membuat siswa lebih senang dan lebih termotivasi untuk belajar. Beberapa
pendekatan pembelajaran yang dianggap efisien adalah pendekatan pembelajaran
komunikatif, pendekatan pembelajaran kontekstual, dan pendekatan pembelajaran
humanistik. Pada makalah ini, penulis akan menjelaskan tentang Pendekatan,
metode, model, strategi dan teknik pembelajaran.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja macam-macam
Pendekatan Pembelajaran?
2. Apa yang dimaksud
dengan Metode Pembelajaran? serta pembagiannya
3. Apa yang dimaksud
dengan model pembelajaran serta pembagiannya?
4. Apa yang dimaksud
dengan strategi pembelajaran?
5. Apa yang
dimaksud dengan teknik pembelajaran?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Mendeskripsikan macam-macam pendekatan pembelajaran untuk peserta didik
2.
Mengetahui pengertian metode pembelajaran serta pembagiannya.
3.
Mengetahui pengertian model pembelajaran serta pembagiannya
4.
Mengetahui definisi strategi pembelajaran.
5.
Mengetahui definisi teknik pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pendekatan Pembelajaran
A.
Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang
kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang
terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, didalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu.
Pendekatan pembelajaran merupakan aktifitas guru dalam
memilih kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran tentu tidak kaku harus
mennggunakan pendekatan tertentu, tetapi sifatnya lugas dan terencana. Artinya
memilih pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan
dalam perencanaan pembelajaran.
B.
Macam-macam Pendekatan dalam Pembelajaran
1.
Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep adalah pendekatan pembelajaran yang secara langsung
menyajikan konsep tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati
bagaimana konsep itu diperoleh. (Syaipul sagala, 2007). Konsep diperoleh dari
fakta, peristiwa, pengalaman, melalui generalisasi dan berfikir abstrak.
Langkah-langkah dalam menggunakan pendekatan konsep
1. Siswa dibimbing memahami suatu
bahasan dengan memahami konsep-konsep yang terkandung didalamnya.
2. Dalam proses pembelajaran tersebut
penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi sasaran utama pembelajaran.
Kelebihan:
1. Fokus
pada penguasaan konsep dan subkonsep
2. Siswa
dibimbing untuk memahami konsep dengan beberapa metode
Kelemahan
1.
Pendekatan ini kurang memperhatikan aspek student centre.
2.
Guru terlalu dominan dan siswa tidak dibimbing untuk memahami konsep.
2. Pendekatan
Lingkungan
Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu
proses belajar mengajar.
Langkah-langkah
dalam menggunakan pendekatan lingkungan:
1. Guru menjelaskan
materi sambil memberikan contoh permasalahan yang dekat dengan lingkungan.
Kelebihan:
1. Lingkungan digunakan
sebagai sumber belajar.
2. Untuk memahami materi
yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sering digunakan pendekatan
lingkungan
3. Pendekatan
Inkuiri
Melakukan
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa
untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dengan dunia
fisik, yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli penelitian
(Dettrick, G.W. 2001).
Langkah-langkah
dalam menggunakan pendekatan Inkuiri:
Guru merencanakan situasi sedemikian rupa sehingga siswa didorong untuk
menggunakan prosedur yang digunakan para ahli penelitian untuk mengenal
masalah, mengajukan pertanyaan, mengemukakan langkah-langkah penelitian,
memberikan pemaparan yang ajeg, membuat ramalan, dan penjelasan yang menunjang
pengalaman.
Kelebihan:
1.
Membelajarkan siswa untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika
berhubungan dengan dunia fisik yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan
oleh para tim ahli.
Kelemahan:
Kurang menguasai teknik yang digunakan oleh para ahli peneliti.
Pendekatan Inkuiri dibedakan menjadi inkuiri terpimpin dan inkuiri bebas atau
terbuka. Perbedaan keduanya terletak pada siapa yang mengjukan pertanyaan dan
apa tujuan dari kegiatannya.
4.Pendekatan
Proses
Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran
memberikan kesempatan kepada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan atau
penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.
Langkah-langkah
dalam menggunakan Pendekatan Proses:
1. Penalaran yang bermula dari umum
kekeadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajukan
aturan prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh atau penerapan penerapan
aturan prinsip umum ke dalam keadaan khusus.
2. Mengembangkan kemampuan siswa
dalam keterampilan proses atau langkah-langkah ilmiah seperti melakukan
pengamatan, menafsirkan data, dan mengkomunikasikan hasil pengamatan.
Kelebihan:
1. Siswa lebih memahami materi yang
telah disampaikan oleh guru.
2. Siswa memiliki keterampilan dalam
melakukan pengamatan, penafsiran data, dan mengkomunikasikan hasil pengamatan.
Kelemahan:
Bagi siswa yang pasif,
pendekatan ini kurang efektif sebab menuntut keterlibatan langsung siswa dalam
kegiatan belajar.
5. Pendekatan
Heuristik
Kata
heuristik berasal dari bahasa yunani yaitu “heuristik”yang berarti saya
menemukan. Menurut Rusyan (1993-114). Heuristik semacam fakta psikologis yang
muncul sebagai kodrat
manusia yang
memiliki nafsu untuk menyelidiki sejak bayi. Metode Heuristik ini dipopulerkan
oleh profesor Amstrong pada abad ke 19 . menurut metode ini peserta didik
sendiri yang harus menemukan fakta ilmu pengetahuan.
Langkah-langkah
dalam menggunakan Pendekatan Heuristik:
1. Siswa diberi
kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep tentang fenomena ilmiah
2. Siswa akan melakukan
kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan hal yang ditemukan.
Kelebihan:
1. Siswa merasakan
pembelajaran itu bermakna.
2. Siswa merespon
hal-hal baru
3. Siswa bersemangat
untuk melakukan eksperimen dn berbagai penelitian.
Kelemahan:
1. Siswa yang kurang
aktif akan sulit untuk mengikuti pembelajaran
2. Siswa akan merasa
kebenaran tentang sesuatu yang baru ditemukannya belum pasti
3. Siswa bersifat
individual, karena siswa cenderung melakukan segala sesuatunya sendiri.
6.
Pendekatan Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran
kooperatif, merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa belajar dan
bekerja dalam kelompok-kelompok secara kolaboratif yang anggota terdiri dari
4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen (Slavin: 1995).
Langkah-langkah
dalam menggunakan Pendekatan Kooperatif:
1. Siswa dibagi dalam
beberapa kelompok, dimana satu kelompok terdiri dari 4-6 orang dengan struktur
kelompok heterogen.
2. Guru hanya memberikan
materi kepada siswa, sehingga siswa dapat mendiskusikan materi tersebut bersama
kelompoknya.
Kelebihan:
1. Belajar kooperatif
menekankan pada kerja kelompok (siswa belajar bersama, saling membantu).
2. Kerja kelompok
membuat siswa semangat untuk belajar aktif untuk saling menampilkan diri atau
berperan di antara teman-teman sebaya.
3. Siswa lebih cepat
memahami materi, karena siswa terlibat langsung dalam materi.
Kelemahan :
Siswa yang tidak aktif merasa terkucilkan saat belajar bersama kelompok.
7. Pendekatan Interaktif
Dikenal juga sebagai pendekatan pertanyaan anak, memberi kesempatan pada siswa
untuk mengajukan pertanyaan untuk kemudian melakukan penyelidikan yang
berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan.
Langkah-langkah
dalam menggunakan pendekatan interaktif:
1. Memberikan kesempatan
pada siswa untuk mengajukan pertanyaan
2. Guru perlu
mengumpulkan, memilih, dan mengubah pertanyaan tersebut menjadi suatu kegiatan
yang spesifik.
3. Melakukan
penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan.
Kelebihan:
1. Siswa ikut
berpatisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran
2. Menumbuhkan
kepercayaan diri siswa untuk mengajukan pertanyaan.
Kelemahan:
Tidak semua pertanyaan siswa yang digunakan untuk
penyelidikan.
8. Pendekatan
Pemecahan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan
melalui praktikum atau pengamatan. Dalam pendekatan pemecahan masalah ini ada
dua versi. Versi yang pertama siswa dapat saja menerima saran tentang prosedur
yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian
pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Dalam versi kedua, hanya masalah
yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru berperan
hanya dalam menyediakan bahan dan membantu memberi pentunjuk.
Langkah-langkah
dalam menggunakan pendekatan pemecahan masalah:
1. Guru memberikan
kesempatan pada siswa untuk dapat memecahkan permasalahan melalui praktikum
atau pengamatan.
Kelebihan:
Siswa dituntut untuk dapat merancang pemecahan masalah
sendiri
Kelemahan:
Guru berperan hanya dalam menyediakan bahan dan
membantu memberi petunjuk.
9. Pendekatan
Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)
Dalam rangka mewujudkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat telah dikembangkan
bahan kajian pengajaran sains dalam bentuk Sains, Teknologi, dan Masyarakat
(S-T-M) (Depdikbud, 1992). STM ini merupakan peng-Indonesiaan dari Science,
Technlogy and Society. Dalam pengajaran sains siswa tidak hanya mempelajari
konsep-konsep sains, tetapi juga diperkenalkan pada aspek teknologi, dan
bagaimana teknologi itu berperan di masyarakat (Depdikbud, 1992).
Langkah-langkah
menggunakan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat:
Guru
mengembangkan bahan kajian pengajaran sains dalam bentuk Sains, Teknologi, dan
Masyarakat
Kelebihan:
1. siswa tidak hanya
mempelajari konsep-konsep sains, tetapi juga diperkenalkan pada aspek
teknologi, dan bagaimana teknologi itu berperan di masyarakat
2. Siswa akan lebih lama
mengingat informasi yang diterima.
Kelemahan:
1.
Pemecahan masalah dalam pendekatan STM ini lebih ditekankan pada masalah yang
ditemukan sehari – hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah
ilmiah
2.
Guru dianggap sebagai fasilitator
10. Pendekatan Terpadu (Integrated
Approach)
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsur atau lebih
dalam suatu kegiatan pembelajaran. Unsur pembelajaran yang dipadukan dapat
berupa konsep dengan proses, konsep dari satu mata pelajaran dengan konsep mata
pelajaran lain, atau dapat juga berupa penggabungan suatu metode dengan metode
lain.
Langkah-langkah
menggunakan pendekatan terpadu:
1. Guru memadukan
dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran.
2. Pemaduan
dilakukan dengan menekankan pada prinsip keterkaitan antar satu unsur dengan
unsur lain.
Kelebihan:
1. Meningkatan wawasan
karena satu pembelajaran melibatkan lebih dari satu cara pandang.
2. Pendekatan terpadu
dapat diimplementasikan dalam berbagai model pembelajaran.
Kelemahan:
Siswa yang pasif akan sulit memahami pembelajaran.
11. Pendekatan Induktif
Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh filosof
Inggris Prancis Bacon (1561) yang menghendaki agar penarikan kesimpulan di
dasarkan dari fakta yang konkrit sebanyak mungkin.
Menurut purwanto dalam Segala (2006:77) tepat atau tidaknya kesimpulan atau
cara berpikir yang diambil secara induktif bergantung pada representatif atau
sampel yang diambil mewakili fenomena keseluruhan.
Langkah-langkah
menggunakan Pendekatan Induktif:
1. Guru mengajak
siswa agar dapat menarik kesimpulan bedasarkan fakta konkrit yang berkaitan
dengan materi yang telah diajarkan.
Kelebihan:
Siswa dapat menarik kesimpulan bedasarkan fakta
konkrit sebanyak mungkin.
Kelemahan:
Tepat atau tidaknya kesimpulan atau cara berpikir yang
diambil secara induktif bergantung pada representatif atau sampel yang diambil
mewakili fenomena keseluruhan.
12. Pendekatan Pembelajaran Berbasis
Kompetensi
Fokus pelaksanaan pembelajaran ini antara lain: (1). Kegiatan pembelajaran
adalah penguasaan kompetensi oleh peserta; (2). Proses pembelajaran harus
memiliki kesepadanan dengan kondisi dimana kompetensi tersebut akan digunakan;
(3) Aktivitas pembelajaran bersifat perseorangan, antara satu peserta dengan
peserta lain tidak ada ketergantungan; (4). Harus tersedia program pengayaan
(enrichment) bagi peserta yang lebih cepat dan program perbaikan (remedial)
bagi peserta yang lebih lamban.
Langkah-langkah
menggunakan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Kompetensi:
1. Dalam kegiatan
pembelajaran, guru harus memperhatikan penguasaan kompetensi oleh siwa.
2. Guru harus
menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi dimana kompetensi tersebut akan
digunakan
3. Guru menyedikan
program pengayaan (enrichment) bagi peserta yang lebih cepat dan program
perbaikan (remedial) bagi peserta yang lebih lamban.
Kelebihan:
1. Kegiatan pembelajaran
lebih difokuskan pada penguasaan kompetensi oleh peserta.
2. Tersedia program
pengayaan dan perbaikan.
Kelemahan:
Aktivitas
pembelajaran bersifat perseorangan, antara satu siswa dengan siswa lain tidak
ada ketergantungan.
13. Pendekatan Pembelajaran
Manajemen Kelas
Menurut Parkay dalam Oemar Hamalik (2006) pendekatan manajemen kelas dapat
diartikan sebagai upaya untuk mengatur situasi kelas untuk menjamin terciptanya
iklim yang dapat mendukung aktivitas pembelajaran bagi seluruh siswa.
Langkah-langkah
menggunakan pendekatan manajemen kelas:
1. Guru mengontrol
situasi belajar siswa
2. Mengarahkan kegiatan
belajar bagi siswa
3. Menjembatani
perbedaan perbedaan belajar siswa.
Kelebihan:
Terciptanya iklim yang dapat mendukung aktivitas pembelajaran bagi seluruh
siswa.
Kelemahan: Siswa tidak bisa belajar mandiri sebab
telah terbiasa dikontrol dan diarahkan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran.
14. Pendekatan Pembelajaran
Berdasarkan Perbedaan Individual
Pembelajaran di mana komponen-komponen dalam sistem pembelajaran disesuaikan dengan
perbedaan individual, baik perbedaan individual secara vertikal maupun
perbedaan individual secara horisontal, siswa bebas belajar sesuai dengan
karakteristiknya, bakat, dan minat nya.
Langkah-langkah
menggunakan Pendekatan Pembelajaran Berdasarkan Perbedaan Individual:
1. Menyesuaikan sistem
pembelajaran dengan perbedaan individual siswa.
Kelebihan:
a.
Siswa bebas belajar sesuai dengan karakteristik,
bakat, dan minatnya.
Kelemahan:
a.
Guru kesulitan dalam menyesuaikan sistem pembelajaran
dengan perbedaan individual sebab siswa memiliki karakter yang bervariasi.
15.
Pendekatan konstruktivis
Teori belajar konstruktivis beranjak dari psikologi perkembangan intelektual
Piaget yang memandang belajar sebagai proses pengaturan sendiri (self
regulation)yang dilakukan seseorang dalam mengatasi konflik kognitif. Konflik
kognitif timbul pada saat terjadi ketidak selarasan (disequilibrasi) antara
informasi yang di terima siswa karena struktur kognitif yang telah dimilikinya.
Adapun pengaturan sendiri adalah proses internal unuk mencapai ekquilibrasi
atau keselarasan yang dilakukan melaui dwi fungsi yaitu organisasi dan
adaptasi.
Langkah-langkah
menggunakan Pendekatan konstruktivis:
1. Guru mengajak siswa
agar dapat membina konsep sendiri atas materi yang telah diajarkan.
2. Menghubung kaitkan
perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang ada pada siswa.
Kelebihan:
a.
Pembelajaran menjadi bermakna sebab siswa dapat
membina konsep sendiri atas materi yang telah diajarkan.
Kelemahan:
kesulitan dalam membina konsep sendiri, jika siswa kurang paham terhadap materi
yang telah diajarkan.
16. Pendekatan Pembelajaran Jarak Jauh
Menurut Jollife et. al.(2001: 32), secara
tradisional pembelajaran jarak jauh adalah merupakan pembelajaran di mana secara
geografis siswa (pembelajar) berada jauh dari fasilitator (guru) dan bekerja
atau belajar secara mandiri melalui serangkaian bahan-bahan
pembelajaran.Dukungan yang diberikan kepada siswa adalah dalam bentuk bantuan
atau tutorial ketika mereka menemukan kesulitan dalam pembelajaran. Namun
dewasa ini, konsep pembelajaran jarak jauh telah berkembang luas.
Langkah-langkah
menggunakan Pendekatan Pembelajaran Jarak Jauh:
1. Guru memberikan
bahan-bahan pembelajaran pada siswa secara tidak langsung, misalnya melalui
email.
2. Dukungan yang
diberikan kepada siswa adalah dalam bentuk bantuan atau tutorial ketika mereka
menemukan kesulitan dalam pembelajaran.
Kelebihan:
a.
Pemakaian waktu lebih efisien, karena siswa dapat
mengerjakan tugas dimanapun ia berada.
Kelemahan:
a.
Siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi
pembelajaran.
2. 2 Metode Belajar Mengajar
A. Pengertian Metode Menegajar
Metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang
dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur. Atau pengertian lainnya
yaitu teknik penyajian yang dikuasai oleh guru untuk mengajar dan menyajikn
bahan pelajaran pada siswa di dalam kelas, baik secara individual maupun secara
kelompok / klasikan, agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan
dimanfaatkan oleh siswa dengan baik.
Menurut Nana
Sudjana (2005: 76) metode pembelajaran adalah, “Metode pembelajaran
ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada
saat berlangsungnya pengajaran”.
Sedangkan M.
Sobri Sutikno (2009: 88) menyatakan, “Metode pembelajaran adalah
cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi
proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”.
Berdasarkan
definisi / pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas
dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi
yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa
untuk mencapai tujuan.
B. Macam-Macam Metode Mengajar
1.
Metode ceramah
Metode ceramah merupakan suatu metode yang digunakan untuk menjelaskan materi
secara verbal dan biasanya memiliki alat bantu visual. Hubungan guru dengan
anak didik lebih banyak bersifat lisan.
Langkah-langkah
dalam melakukan metode caramah :
Mendefinisikan
istilah-istilah tertentu.
Pembuatan bagian-bagian atau su-sub bagian.
Pembuatan ikhtisar dalam bentuk pengungkapan dari inti pembicaraan.
Mengajukan dan memecahkan keberatan-keberatan dan memberikan kesempatan kepada
guru untuk menjawab dan mengklarifikasikan jika ada salah pengertian.
Kelebihan
metode ceramah:
a.
Guru mudah menguasai kelas.
b.
Mudah mengorganisasikan tempat duduk atau kelas.
c.
Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
d.
Mudah melaksanakan dan mempersiapkannya.
e.
Guru mudah menerangkan dengan baik.
f.
Fleksibel, dalam arti bahwa jika waktu yang sedikit
dapat dipersingkat, dan mengambil yang penting-penting saja.
Kekurangan
metode ceramah :
a.
Anak didik cenderung menjadi pasif dan ada kemungkinan
kurang tepat dalam mengambil kesimpulan.
b.
Mudah terjadi verbalisme.
c.
Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar)
yang besar menerimanya.
d.
Bila selalu digunakan dan terlalu lama membosankan.
e.
Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik
pada ceramahnya, ini sukar sekali.
2. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan menghasilkan
pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami meteri tersebut. Atau
lebih lengkap lagi, metode tanya jawab adalah interaksi
dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan komunikasi
verbal, yaitu dengan memberikan siswa pertanyaan untuk dijawab, di samping itu
juga memberikan kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan kepada guru.
Langkah-langkah tanya jawab :
a.
Membuat daftar pertanyaan sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
b.
Mengajukan pertanyaan.
c.
Membuat kesimpulan
Kelebihan metode tanya jawab :
a.
Dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa.
b.
Kelas akan hidup karena anak didik aktif berfikir dan
menyampaikan pikiran melalui berbicara.
c.
Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan cara
berfikir termasuk daya ingatan.
d.
Mengembangkan kebenaran dan keterampilan siswa dalam
menjawab dan mengungkapkan pendapat.
Kelemahan metode tanya jawab :
a.
Siswa merasa takut, apalagi bila kurang dapat
mendorong siswa untuk berani.
b.
Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan
tingkat berfikir dan mudah dipahami siswa,
c.
Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa
tidak dapat menjawab pertanyaan sampai 2 atau 3 orang.
d.
Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup
waktu untuk memberikan pertanyaan pada setiap siswa.
3. Metode Diskusi
Metode diskusi
adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian materi. Metode diskusi
merupakan suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah untuk mengambil
kesimpulan.
Jenis-jenis diskusi :
a.
Diskusi kelas, jika melibatkan seluruh siswa dan
diskusi dipimpin oleh guru.
b.
Diskusi kelompok, terdiri dari 3-6 orang.
i.
Buzz grup : diskusi dadakan,membicarakan bahan yang
baru diajarkan.
ii.
Syndikat grup : tiap kelompok dengan tugas
masing-masing dan dilaporkan di depan kelas.
c.
Brain storming yaitu pengumpulan pendapat atau saran.
Kelebihan metode diskusi :
a.
Siswa memperoleh kesempatan untuk berfikir.
b.
Siswa mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap
dan aspirasinya secara bebas.
c.
Siswa belajar bersikap toleran terhadap
teman-temannya.
d.
Diskusi dapat menumbuhkan partisipatif aktif
dikalangan siswa.
e.
Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat
menghargai pendapat orang lain.
f.
Dengan diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan
kebutuhan masyarakat.
Kekurangan metode diskusi :
a.
Diskusi terlalu menyerap waktu.
b.
Pada umumnya siswa tidak terlatih untuk melakukan
diskusi dan menggunakan waktu diskusi dengan baik, maka kecenderungan mereka
tidak sanggup berdiskusi.
c.
Kadang-kadang guru tidak sanggup memahami cara-cara
melaksanakan diskusi, maka kecenderungannya diskusi tanya jawab.
4. Metode pemberian tugas
Metode pemberian
tugas adalah cara mengajar atau cara penyajian materi melalui penugasan
siswa untuk melakukan suatu pekerjaan. Bisa dikatakan bahwa metode pemberian
tugas adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan tugas
tertentu kepada siswa untuk dikerjakan dan hasilnya dapat dipertanggung
jawabkan. Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam materi pelajaran dan
dapat pula mengevaluasi materi yang telah dipelajari. Sehingga, siswa akan
terangsang untuk belajar.
Langkah-langkah metode pemberian tugas :
a.
Guru menyiapkan tugas dan menyediakan buku sumber.
b.
Guru menmberikan tugas kepada siswa dan menyebutkan
manfaatnya.
c.
Tugas harus dikerjakan oleh siswa
Kelebihan metode pemberian tugas :
a.
Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal
yang konstruktif.
b.
Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas sebab
dalam strategi ini siswa harus mempertanggung jawabkan segala sesuatu (tugas)
yang telah dikerjakan.
c.
Memberikan kebiasaan untuk giat belajar.
d.
Memberikan tugas siswa untuk sifat yang praktis.
Kelemahan metode pemberian tugas :
a.
Tidak jarang pekerjaan yang ditugaskan itu
diselesaikan dengan meniru pekerjaan orang lain.
b.
Karena perbedaan individu, maka tugas apabila
diberikan secara umum mungkin beberapa orang diantaranya merasa sukar sedang
kan sebagian lainnya merasa mudah menyelesaikan tugas tersebut.
c.
Apabila tugas diberikan, lebih-lebih bila itu sukar
dikerjakan, maka ketenangan mental para siswa menjadi terpengaruh.
5. Metode Demonstrasi
Metode
Demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan
mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi, atau benda
tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.
Langkah-langkah melakukan metode demonstrasi :
a.
Guru menyiapkan bahan demonstrasi yang akan dilakukan
dan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b.
Guru mencoba alat terlebih dahulu.
c.
Guru memberi penjelasan serta ilustrasi kepada siswa
tentang demonstrasi yang dilakukan.
d.
Kegiatan demonstrasi ditindak lanjuti dengan
berdiskusi antar siswa dan kemudian siswa mencobakan alat demonstrasi.
b. Kelebihan
metode demonstrasi :
a.
Perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang
dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati.
b.
Dapat membimbing murid ke arah berpikir yang sama
dalam satu saluran pikiran yang sama.
c.
Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis
dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu
yang pendek.
d.
Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan
dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaran yang
jelas dari hasil pengamatanya.
e.
Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak
memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
f.
Beberapa persoalan yang menimbulkan pertanyaan atau
keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi.
Kekurangan metode demonstrasi :
a.
Metode ini memerlukan keterampilan guru secara khusus,
karena tanpa ditunjang dengan hal seperti itu, pelaksanaan demonstrasi akan
tidak efektif.
b.
Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang
memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
c.
Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang
matang di samping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa
mengambil waktu atau jam pelajaran lain.
7. Metode Eksperimen
Metode eksperimen
(percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan
dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.
Langkah-langkah melakukan metode eksperimen :
a.
Guru menyiapkan alat untuk percobaan, dan harus sesuai
dengan tujuan.
b.
Sebelumnya guru menguji coba alat yang akan digunakan.
c.
Guru memberikan lembar kegiatan siswa, dan menjelaskan
apa yang harus dilakukan oleh siswa.
d.
Guru membantu dan membimbing siswa saat melakukan
percobaan.
e. Percobaan ditindak lanjuti dengan
diskusi antar siswa.
2.3 Macam-macam
Teknik Pembelajaran
Terdapat beberapa pembagian jenis teknik
pembelajaran, diantaranya:Menurut Femilla,
Macam-macam teknik pembelajaran meliputi teknik syarahan, Teknik perbincangan,
Teknik projek, Teknik penyelesaian masalah, Teknik dapatan, Teknik
permainan, Teknik kooperatif.
Menurut shintiaminandar,
jenis teknik pembelajaran terbagi dua, yaitu:
1) Teknik Pembelajaran Teknik Umum (Teknik Umum Mengajar) adalah
cara-cara yang dapat digunakan untuk semua bidang studi;
2) Teknik
Khusus (Teknik Khusus Pengajaran Bidang Studi Tertentu) adalah cara mengajarkan
(menyajikan atau memantapkan) bahan- bahan pelajaran bidang studi tertentu.
Dengan mengetahui pengertian dan jenis teknik
pembelajaran di atas, diharapkan dapat membantu pengajar dalam memilih teknik
pembelajaran yang tepat ketika hendak menggunakan
suatu metode pembelajaran tertentu terhadap keadaan spesifik yang dihadapi
selama proses pembelajaran.
Teknik
Pembelajaran
Bila Anda hanya
mengenal pendekatan dan metode saja sebenarnya Anda baru mengetaui
penyampaian pelajaran secara teoretis (Hidayat dkk. 2000: 60). Karena ada suatu
alat lain yang digunakan langsung oleh guru untuk mencapai tujuan pelajaran
itu, yaitu teknik.
Teknik artinya
cara, yaitu cara mengerjakan atau melaksanakan sesuatu. Jadi, teknik pengajaran
atau mengajar adalah daya upaya, usaha-usaha, cara-cara yang digunakan guru
untuk melaksanakan pengajaran atau mengajar di kelas pada waktu tatap muka
dalam rangka menyajikan dan memantapkan bahan pelajaran agar tercapai tujuan
pembelajaran (TIK/TPK pada kurikulum sebelum 2004, indikator setelah kurikulum
2004) saat itu.
Karena itu,
teknik bersifat implementasional (pelaksanaan) dan terjadinya pada tahap
pelaksanaan pengajaran (penyajian dan pemantapan).Kalau kita perhatikan guru
yang sedang mengajar di kelas, maka yang tampak pada kegiatan guru – murid itu
adalah teknik mengajar.
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa teknik pembelajaran adalah siasat atau cara
yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk
dapat memperoleh hasil yang optimal. Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan
metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut.
Dengan kata lain, pendekatan menjadi dasar penentuan metode, dari metode
dapat ditentukan teknik. Karena itu, teknik yang digunakan guru dapat
bervariasi sekali. Untuk metode yang sama dapat digunakan teknik pembelajaran
yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai faktor.
Karena itu,
teknik pembelajaran yang digunakan guru tergantung pada kemmapuan guru itu
mencarai akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar
dan berhasil dengan baik. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penentuan
teknik pembelajaran di antaranya 1) situasi kelas, 2) lingkungan, 3) kondisi
siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi yang lain.
Dalam
percakapan sehari-hari kata metode dan taknik ini diartikan sama,
yaitu cara. Dengan demikian, guru sering mencampuradukkan antara metode
pengajaran dan teknik mengajar.Kalau teknik mengajar disebut metode mengajar
masih bisa diterima karena metode mencakup teknik. Sebaliknya, kalau sebuah
metode pengajaran disebut teknik pengajaran jelas tidak tepat sama sekali.
Agar lebih jelas, ada baiknya kita
perbandingkan metode dan teknik ini dengan menampilkan perbedaannya sebagai
berikut.
|
No.
|
Metode
|
Teknik
|
|
1
|
Mencakup semua tahap dalam proses belajar
mengajar.
|
Hanya tertuju kepada satu tahap proses belajar
mengajar, yaitu pada tahap pelaksanaan.
|
|
2
|
Bersifat prosedural (menggam-barkan prosedur
langkag-lang-kah menyeluruh proses belajar mengajar).
|
Bersifat implementasional (meng-gambarkan
pelaksanaan pengajaran di kelas).
|
|
3
|
Tidak tampak, tidak bisa dide-teksi dengan jelas
dengan melihat guru yang sedang mengajar di kelas.
|
Tampak pada saat melihat guru yang sedang mengajar
di kelas.
|
|
4
|
Ditunjukkan untuk mencapai tujuan umum pengajaran
(TIU/ TPU pada kurikulum sebelum 2004, KD pada kurikulum setelah 2004).
|
Ditujukan untuk mencapai tujuan khusus (TIK/TPK
pada kurikulum sebelum 2004, indikator untuk kurikulum setelah 2004) suatu
pertemuan.
|
|
5
|
Jumlahnya hanya satu (satu metode khusus) untuk
satu bidang studi dalam satu program.
|
Jumlahnya sangat banyak untuk setiap pengajaran
bidang studi dalam suatu program.
|
|
6
|
Metode pengajaran (metode khusus) ditetapkan oleh
kur-ikulum, guru tinggal mengi-kutinya.
|
Guru bebas memilih teknik asal cocok dan dapat
mencapai tujuan pengajaran bahan yang sedang diajarkannya.
|
Seperti halanya
prinsip, pendekatan, dan metode, teknik pembelajaran dapat dibagi atas dua
bagian, yaitu teknik umum dan teknik khusus.
1.
Teknik Umum (Teknik Umum Mengajar)
a. teknik
ceramah
b. teknik tanya
jawab
c. teknik
diskusi
d. teknik ramu
pendapat
e. teknik
pemberian tugas
f. teknik
latihan
g. teknik
inkuiri
h. teknik
demonstrasi
Teknik umum adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk semua bidang
studi.Teknik umum di antaranya sebagai berikut.
i. teknik simulasi.
Nama-nama teknik umum ini sama seperti nama-nama metode umum, namun
wujudnya tentu berbeda. Misalnya ceramah.Sebagai metode,
ceramah mencakup pemilihan, penyusunan, dan penyajian bahan.Bahkan, metode
ceramah juga mencakup bagaimana menyajikan bahan, dan biasanya teknik ceramah
itu hanya salah satu teknik yang dipakai dalam suatu pertemuan atau kegiatan
belajar mengajar.
b. Teknik
Khusus (Teknik Khusus Pengajaran Bidang Studi Tertentu)
Teknik
khusus adalah cara mengajarkan (menyajikan atau memantapkan) bahan-bahan
pelajaran bidang studi tertentu. Teknik khusus pengajaran bahasa mempunyai
ragam dan jumlah yang sangat banyak. Hal ini karena teknik mengacu kepada
penyajian materi dalam lingkup yang keci!.Sebagai contoh, teknik pengajaran
keterampilan berbahasa terdiri atas teknik pembelajaran membaca, teknik
pembelajaran menulis, teknik pembelajaran berbicara, teknik pembelajaran
menyimak, teknik pembelajaran tata bahasa, dan teknik pembelajaran kosa
kata.Pembelajaran membaca terbagi pula atas teknik pembelajaran membaca
permulaan dan teknik pembelajaran membaca lanjut.Masing-masing terdiri pula
atas banyak macam.Begitulah, teknik khusus itu banyak sekali macamnya karena
teknik khusus itu berhubungan dengan rincian bahan pembelajaran.
Dalam setiap
kegiatan belajar mengajar, misalnya guru bahasa Indonesia, hanya menggunakan
satu metode, katakanlah metode khusus pembelajaran bahasa (yang ditunjang
sejum!ah pendekatan dan prinsip), tetapi menggunakan sejumlah teknik, baik umum
maupun khusus. Teknik ini setiap saat divariasikan.
Macam-macam
Model Mengajar
a.
Model-model Pemrosesan
Model-model
yang berorientasi pada kemampuan pemrosesan informasi dari siswa dan cara
memperbaiki kemampuannya dalam menguasai informasi, merujuk pada cara orang
menangani stimulus dari lingkungannya, mengorganisasikan data, menginderai
masalah, melahirkan konsep dan pemecahan masalah, dan menggunakan simbol verbal
da non-verbal. Sungguhpun model-model yang termasuk ke dalam rumpun ini
berkesan akademik namun tetap peduli akan hubungan sosial dan pengembangan
diri. Model-model yang termasuk dalam rumpun ini antara lain adalah; Model
Berpikir (Inquiry Training Model), Inkuiri Ilmiah (Scientific
Inquiry), Perolehan Konsep (Concept), Model Advance Organizer (Advance
Organizer Model), dan Ingatan (Memory). Model berpikir yang
dikembangkan Hilda Taba, dirancang terutama untuk pengembangan proses mental
induktif dan penalaran akademik atau pembentukan teori, namun kapasitasnya
berguna pula untuk pengembangan personal dan sosial.
b.
Model-model Personal
Model-model
yang termasuk ke dalam rumpun personal berorientasi pada pengembangan diri
individu, model-model ini menekankan proses pembentukan individu dalam
mengorganosasikan realitasnya yang unik. Fokus pengembangan diri berkesan
menekankan pada pembinaan emosional antara individu dalam hubungan produktif
dengan lingkungannya hingga diharapkan menghasilkan hubungan interpersonal yang
lebih kaya dan kemampuan pemrosesan yang lebih efektif lagi. Terliput ke dalam
rumpun ini adalah; Pengajaran Non-Direktif (Non-directive Teaching),
Pelatihan Kesadaran (Awraness Training), Sinektic (Synectics),
Sistem Konseptual (Conceptual System) dan Pertemuan Kelas (Classroom
Meeting).
c.
Model-model Interaksi Sosial
Model-model
pembelajaran yang termasuk rumpun Interaksi Sosial, menekankan hubungan antara
individu dengan masyarakat dan dengan individu lainnya. Fokus model ini
terletak pada proses di mana dengan proses ini realitas dinegosiasi memberikan
prioritas pada perbaikan kemampuan individu untuk berhubungan dengan yang
lainnya, bergelut dengan proses demokratik dan bekerja secara produktif dalam
masyarakat. Termasuk ke dalam rumpun model ini, antara lain : Investigasi
Kelompok (Group Investigation), Inkuiri Sosial (Social Inquiry),
Metode Laboratorium (Laboratory Method), Yurisprudensial (Yurisprudential),
Bermain Peran (Role Playing) dan Simulasi Sosial (Social Simulation).
d. Model
Behavioral
Model-model
yang termasuk ke dalam rumpun behavioral berpijak pada landasan teoritis yang
sama, yakni teori tingkah laku (Behavioral Theory). Dalam penerapannya,
model ini banyak menggunakan istilah lain seperti teori belajar, teori belajar
sosial, modifikasi tingkah laku, dan terapi tingkah laku. Ciri pokoknya
menekankanpada usaha mengubah tingkah laku teramati ketimbang struktur
psikologis yang mendasarinya dan tingkah laku yang tidak teramatinya. Model ini
mendasarkan pada prinsip kontrol stimulus dan penguatan (Stimulus Control
and Reinforcement). Lebih dari model lainnya model behavioral memiliki
keterpakaian yang luas dan teruji keefektifannya pada aneka tujuan seperti
pendidikan, pelatihan, tingkah laku interpersonal da pengobatan. Tercakup
kedalam model ini, antara lain: Manajemen Kontingensi (Contingency
Management), Kontrol Diri (Self Control), Relaksasi (Relaxation),
Reduksi Stres (Stress Reducation), Pelatihan Asertif (Assertive
Training), Desentisasi (Desensitization) dan Pelatihan Langsung (Direct
Training).
4.
Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Mengatasi Masalah Pendidikan IPS di SD
Sejumlah model pendekatan
pembelajaran tersebut diatas, masing-masing mengedepankan keunggulan dalam
mengupayakan pencapaian sasaran yang diyakini oleh setiap pengembangannya,
namun untuk penerapan praktis di tempat yang sangat mungkin berbeda, harus dikalkulasikan
dengan berbagai aspek kondisional yang tentu tidak sama. Sekurang-kurangnya
dimana, oleh, atau dengan dan terutama untuk siapa proses pembelajaran
dilakukan. Khusus berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran pada anak usia
pertumbuhan, dari sejumlah model tersebut tentunya dapat dirujuk model
pendekatan yang menjadi rujukan di atas dengan sebutan model Cognitive
Emotion and Social Development. Dasar pandangannya adalah “anak merupakan
produk berbagai pengaruh, mulai dari keluarganya, kesehatan, kondisi sosial
ekonomi dan sekolah”. Bahwa masing-masing pendekatan pada pandangan teoritis
berkenaan dengan stressingnya, dalam praktisnya dapat terjadi saling
berkait antara satu pendekatan dengan pendekatan lain secara bersamaan. Untuk
itu, memenuhi keperluan teknis operasional dalam mengembangkan pembelajaran
Pengetahuan Sosial berbasis pendekatan nilai khususnya, berikut dipetikan
langkah teknis sejumlah model pilihan yang dipandang mewakili tuntutan
karakteristik materil, peserta didik dan setting sosial yang menjadi
lingkungan kultur dan belajar SD/MI umumnya di tanah air. Beberapa dari
sejumlah pendekatan yang menjadi rujukan tersebut, secara parsial terliput
dalam kerangka teknis model pilihan berikut, antara lain: Model Inkuiri, VCT,
Bermain Peta, ITM (STS), Role Playing, dan Portofolio
1) Model Inkuiri
a) Makna
Pembelajaran Inkuiri
Model
inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang memfokuskan kepada
pengembangan kemampuan siswa dalam berpikir reflektif kritis, dan kreatif.
Inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang dipandang modern yang dapat
dipergunakan pada berbagai jenjang pendidikan, mulai tingkat pendidikan dasar
hingga menengah. Pelaksanaan inkuiri di dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial
dirasionalisasi pada pandangan dasar bahwa dalam model pembelajaran tersebut,
siswa didorong untuk mencari dan mendapatkan informasi melalui kegiatan belajar
mandiri. Model inkuiri pada hakekatnya merupakan penerapan metode ilmiah
khususnya di lapangan Sains, namun dapat dilakukan terhadap berbagai pemecahan
problem sosial. Savage Amstrong mengemukakan bahwa model tersebut secara luas
dapat digunakan dalam proses pembelajaran Social Studies (Savage and
Amstrong, 1996). Pengembangan strategi pembelajaran dengan model inkuiri
dipandang sanagt sesuai dengan karakteristik materil pendidikan Pengetahuan
Sosial yang bertujuan mengembangkan tanggungjawab individu dan kemampuan
berpartisipasi aktif baik sebagai anggota masyarakat dan warganegara.
b)
Langkah-langkah Inkuiri
Langkah-langkah
yang harus ditempuh di dalam model inkuiri pada hakekatnya tidak berbeda jauh
dengan langkah-langkah pemecahan masalah yang dikembangkan oleh John Dewey
dalam bukunya “How We Think”.
Langkah-langkah
tersebut antara lain:
a. Langkah
pertama, adalah orientation, siswa mengidentifikasi masalah, dengan
pengarahan dari guru terutama yang berkaitan dengan situasi kehidupan
sehari-hari.
b. Langkah
kedua hypothesis, yakni kegiatan menyusun sebuah hipotesis yang
dirumuskan sejelas mungkin sebagai antiseden dan konsekuensi dari penjelasan
yang telah diajukan.
c. Langkah
ketiga definition, yaitu mengklarifikasi hipotesis yang telah diajukan
dalam forum diskusi kelas untuk mendapat tanggapan.
d. Langkah
keempat exploration, pada tahap ini hipotesis dipeluas kajiannya dalam
pengertian implikasinya dengan asumsi yang dikembangkan dari hipotesis
tersebut.
e. Langkah
kelima evidencing, fakta dan bukti dikumpulkan untuk mencari dukungan
atau pengujian bagi hipotesa tersebut.
f.
Langkah keenam generalization, pada tahap ini
kegiatan inkuiri sudah sampai pada tahap mengambil kesimpulan pemecahan masalah
(Joyce dan Weil, 1980).
2) Model
Pembelajaran VCT
a) Makna
Pembelajaran VCT
VCT adalah
salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan pancapaian pendidikan
nilai. Djahiri (1979: 115) mengemukakan bahwa Value Clarification Technique,
merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali/ mengungkapkan
nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Karena itu, pada prosesnya VCT
berfungsi untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa
tentang suatu nilai; b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang
dimilikinya baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian dibina kearah
peningkatan atau pembetulannya; c) menanamkan suatu nilai kepada siswa
melalui cara yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya. Dengan
kata lain, Djahiri (1979: 116) menyimpulkan bahwa VCT dimaksudkan untuk
“melatih dan membina siswa tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan
terhadap suatu nilai umum untuk kemudian dilaksanakannya sebagai warga
masyarakat”.
b) Langkah
Pembelajaran Model VCT
Berkenaan
dengan teknik pembelajaran nilai Jarolimek merekomendasikan beberapa cara,
antara lain:
a. Teknik
evaluasi diri (self evaluation) dan evaluasi kelompok (group
evaluation)
Dalam teknik
evaluasi diri dan evaluasi kelompok pesertadidik diajak berdiskusi atau
tanya-jawab tentang apa yang dilakukannya serta diarakan kepada keinginan untuk
perbaikan dan penyempurnaan oleh dirinya sendiri:
1)
Menentukan tema, dari persoalan yang ada atau yang ditemukan peserta didik
2) Guru
bertanya berkenaan yang dialami peserta didik
3) Peserta
didik merespon pernyataan guru
4) Tanya jawab
guru dengan peserta didik berlangsung terus hingga sampai pada tujuan yang
diharapkan untuk menanamkan niai-nilai yang terkandung dalam materi tersebut.
b. Teknik Lecturing
Teknik lecturing,
dilalukan guru gengan bercerita dan mengangkat apa yang menjadi topik
bahasannya. Langkah-langkahnya antara lain:
1) Memilih
satu masalah / kasus / kejadian yang diambil dari buku atau yang dibuat guru.
2) Siswa
dipersilahkan memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan menggunakan kode,
misalnya: baik-buruk, salah benar, adil tidak adil, dsb.
3) Hasil
kerja kemudian dibahas bersama-sama atau kelompok kalau dibagi kelompok untuk
memberikan kesempatan alasan dan argumentasi terhadap penilaian tersebut.
c. Teknik
menarik dan memberikan percontohan
Dalam teknik
menarik dan memberi percontohan (example of axamplary behavior), guru
membarikan dan meminta contoh-contoh baik dari diri peserta didik ataupun
kehidupan masyarakat luas, kemudian dianalisis, dinilai dan didiskusikan.
d. Teknik
indoktrinasi dan pembakuan kebiasan
Teknik
indoktrinasi dan pembakuan kebiasan, dalam teknik ini peserta didik dituntut
untuk menerima atau melakukan sesuatu yang oleh guru dinyatakan baik, harus,
dilarang, dan sebagainya.
e. Teknik
tanya-jawab
Teknik
tanya-jawab guru mengangkat suatu masalah, lalu mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan sedangkan peserta didik aktif menjawab atau mengemukakan
pendapat pikirannya.
f. Teknik
menilai suatu bahan tulisan
Teknik
menila suatu bahan tulisan, baik dari buku atau khusus dibuat guru. Dalam hal
ini peserta didik diminta memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan kode
(misal: baik - buruk, benar – tidak-benar, adil – tidak-adil dll). Cara ini
dapat dibalik, siswa membuat tulisan sedangkan guru membuat catatan kode
penilaiannya. Selanjutnya hasil kerja itu dibahas bersama atau kelompok untuk
memberikan tanggapan terhadap penilaian.
g. Teknik
mengungkapkan nilai melalui permainan (games). Dalam pilihan ini guru
dapat menggunakan model yang sudah ada maupun ciptaan sendiri.
Macam-Macam Strategi
Pembelajaran IPS Sd
a.
Pembelajaran Kemampuan Berpikir
Penanaman
konsep merupakan penunjang kemampuan berpikir siswa,Konsep merupakan
keadaan lingkungan ( abstraksi ) dari kesamaan dari jumlah benda atau
fenomena. Contoh konsep yakni tanah, sungai, gunung, uang, cuaca dan lain-lain.
Pengajaran konsep mengembangkan kemampuan kognitif dari yang terendah sampai
tingkat tinggi
Pengajaran
konsep dapat dilakukan melalui dua pendekatan:
a.
Pendekatan
induktif dilakukan dengan mengkaji fenomena- fenomena sosial untuk mendapatkan informasi
yang selanjutnya dikembangkan menjadi fakta.Fakta-fakta tersebut dirangkai
sehingga menunjukkan adanya suatu kategori atau kesamaan tertentu.
b.
Pendekatan
deduktif pengajaran dimulai dengan pemberian konsep dan diteruskan untuk
menemukan fakta-fakta yang menjadi bagian konsep.
Pembelajaran kemampuan berpikir termasuk juga didalamnya yaitu suatu kajian
terhadap peristiwa, kejadian, fenomena atau situasi ( studu kasus) tertentu
yang terjadi di tempat tertentu dan berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan
manusia di masa lalu, masa kini atau masa yang akan datang (S. Hamid Hasan,
1996:192). Sebuah peristiwa dapat dikatakan sebuah kasus atau kejadian karena
peristiwa itu unik serta terbatas pada waktu dan tempat terjadinya peristiwa
tersebut dan tidak terulang di tempat yang lain. Contohnya, peristiwa
kelahiran.
Isu
Kontroversial merupakan pembelajaran kemampuan berpikir bagi siswa, yang mana
Muessig (S. Hamid Hassan, 1996:202) menyatakan bahwa isu kontroversial adalah
sesuatu yang mudah diterima oleh seseorang atau kelompok tetapi juga mudah
ditolak oleh orang atau kelompok lain. Isu kontroversial lahir dari perbedaan
pendapat dan isu kontroversial pun mengakibatkan perbedaan pendapat. Perbedaan
pendapat muncul dari perbedaan pandangan seseorang terhadap sebuah fakta.
b.
Strategi Pembelajaran Kemampuan Proses
1.
Pemecahan
Masalah (Problem Solving)
Dalam pengajaran IPS SD kelas
di persekolahan guru dapat mendorong siswa untuk belajarmemecahkan masalah
dengan menggunakan metode pendekatan pemecahan masala (problem solving).Dengan
cara pendekatan akan terjalin sebuah komunikasi yang baik antara guru
dengan siswa sehingga antara guru dan siswa tidak ada pembatas. Yang mana jika
tidak ada pembatas antara guru dan siswa akan dengan mudah untuk mencari atau
mengetahui jalan keluar dari suatu permasalahan.
2.
Inkuiri
Inkuiri
ialah siswa mampu menemukan jawaban sendiri dari pertanyaan-pertanyaan yang
timbul.Pengajaran inkuiri merupakan bentuk pengajaran yang mengenalkan
konsep-konsep secara induktif.Perbedaaan yang mendasar antara pengajaran
inkuiri dengan pemecahan masalah yakni pengajaran inkuiri lebih menekankan pada
pengembangan kemampuan pemecahan masalah yang terbatas pada disiplin ilmu bukan
pada masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
3.
Portofolio
Kumpulan pekerjaan peserta
didik dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan
yang ditentukan. Portofolio biasanya merupakan karya terpilih dari
seorang siswa.Tetapi dapat juga berupa karya terpilih dari satu kelas secara
keseluruhan yang bekerja secara kooperatif.
c.
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif pembelajaran yang menghendaki siswa belajar secara bersama-sama,
saling membatu satu sama lain dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang
dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya.
d.
Pembelajaran Nilai
1.
Bermain
Peran
Suatu proses
belajar di mana siswa melakukan sesuatu yang dilakukan orang lain (S.Hamid
Hasan, 1996: 265). Dalam proses belajar bermain peran siswa diajak untuk
berpikir, berperan, dan bertindak bukan sebagai dirinya tetapi sebagai orang
lain.
2.
Sosio Drama
Ada
perbedaan antara sosio drama dengan bermain peran yakni bermain peran lebih
luas ruang lingkupnya sedangkan drama sosial membatasi pada permasalahan yang
menyangkut aspek sosial dalam masyarakat.Perbedaan yang kedua yakni dalam
penentuan peran.Dalam sosio drama sebuah peran dapat ditentukan secara langsung
setelah sebuah permasalahan sosial dibahas oleh guru di dalam kelas.Peran yang
dimainkan oleh siswa tidak memerlukan persiapan khusus seperti dalam bermain
peran. Dalam sosio drama reaksi spontan siswa dalam memainkan peran lebih
diutamakan sehingga apa yang dikemukakan siswa sebagai pemegang peran akan
berbeda dengan yang aslinya.
Klarifikasi
Nilai (Value Clarification Technique):
o
VCT Analisis
Nilai
o
VCT Daftar Nilai.
e.
Pembelajaran Peta dan Globe
Pembelajaran
ketrampilan peta dan globe merupakan salah satu metode dalam pembelajaran
geografi.Namun, pembelajaran ini tidak hanya menunjang pembelajaran geografi
saja, pembelajaran sejarah, pendidikan kewarganegaraan, sosiologi bahkan Bahasa
Indonesia. Dalam pembelajaran ini siswa diharapkan mampu membaca dan
menunjukkan tempat serta analisa dalam peta dan grafik. Kita ketahui peta tidak
hanya menunjukkan lokasi satu daerah namun, dalam peta memiliki segudang informasi
mengenai penduduk, tempat wisata, pertambangan dan lain-lain.
f.
Pembelajaran Aksi Sosial
Newmann
(1975:8) model pembelajaran aksi sosial merupakan pola dan aktivitas belajar
siswa baik di dalam atau dengan kelompok yang dilakukan dengan keterlibatan
masyarakat sebagai aktivitas di mana siswa mendemonstrasikan kepeduliannya
terhadap masalah-masalah sosial. Misalnya menyelenggarakan studi, partisipasi
kerja secara sukarela, aktif mengadakan pendampingan di dalam atau di luar
sekolah, dan aktivitas nyata siswa untuk mempengaruhi kebijakan public di
masyarakat yang dilakukan di luar sekolah.
Nasution
(1997:179): model pembelajaran aksi social sebagai suatu teknik mengajar guna
membantu anak didik mengembangkan kompetensi social atau kewarganegaraan, sehingga
dapat melibatkan diri secara aktif dalam perbaikan masyarakat.
Daftar Pustaka