BAB 1.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dalam
perjalanan pembentukan alam raya ini, munculnya manusia dimuka bumi secara
nisbi masih sangat baru. Oleh sebab itu kita tidak boleh heran bahwa sejak
zaman purbakala hingga sekarang manusia dari berbagai peradaban mencoba
menemukan teori terbentuknya bumi sesuai dengan tingkat pengembangan ilmu pengetahuan dan
pemikirannya.
Perkembangan
citra manusia mengenai alam raya ini seringkali terikat sangat erat pada
pengetahuan apriori yang diturunkan kepadanya melalui otoritas. Hal ini
menyebabkan bahwa pandangan tentang alam raya sulit diuji kebenarannya melalui
pengalaman.
Alam semesta merupakan
suatu ruang atau tempat bagi manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan benda-benda.
Langit sebagai atapnya dan bumi sebagainya lantainya. Jadi, alam semesta atau
jagat raya adalah satu ruang yang maha besar, terdapat kehidupan yang biotik
dan abiotik. Manusia
sebagai makhluk yang terdiri atas berbagai macam pola dan bentuk tetapi
diantara makhluk tersebut. Tuhan menciptakan bermacam-macam makhluk tetapi yang
paling istimewa dan sempurna yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya
adalah akal, agar manusia dapat membedakan baik atau buruknya sesuatu.
1.2 Rumusan Masalah
a.
Apa saja teori-teori pembentukan alam semesta?
b.
Bagaimana pembentukan alam semesta dalam perspektif sains?
1.3 Tujuan Masalah
a. Mengetahui
teori-teori pembentukan alam semesta
b. Mengetahui
pembentukan alam semesta dalam perspektif sains
BAB 2.
PEMBAHASAN
2.1
Teori-Teori Pembentukan Alam Semesta
- Teori Kabut
Teori kabut dikemukakan oleh dua orang ilmuan yaitu Imanuel Kant
(1724-1804) seorang ahli filsafat bangsa Jerman dan Piere Simon Laplace
(1749-1827) ahli astronomi bangsa Perancis. Kant mengemukakan teorinya tahun
1755, sedangkan Laplace mengemukakan tahun 1796 dengan nama Nebular
Hypothesis.
Pada akhir abad ke-19 teori kabut disanggah oleh beberapa ahli seperti
James Clark Maxwell yang memberikan kesimpulan bahwa bila bahan pembentuk
planet terdistribusi disekitar matahari membentuk suatu cakram atau suatu
piringan, maka gaya yang disebabkan oleh perbedaan perputaran (kecepatan
anguler) akan mencegah terjadinya pembekuan planet. Pada abad ke-20 percobaan
dilakukan untuk membuktikan terbentuknya cincin-cincin Laplace, menunjukkan
bahwa medan magnet dan medan listrik matahari telah merusak proses pembekuan
batu-batuan. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa cincin gas
dapat membeku membentuk planet.
B.
Teori Planetisimal
Teori planetisimal pertama kali dikemukakan oleh
Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis
planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang
lain yang hampir menabrak matahari.
C.
Teori Pasang Surut Bintang
Teori pasang surut bintang pertama kali dikemukakan
oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut
bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak
pada jumlah awalnya matahari.
D.
Teori Kondensasi
Teori kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom
Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis
kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang
berputar membentuk cakram raksasa.
E. Teori Bintang Kembar
Menurut teori bintang kembar, awalnya ada dua buah
bintang yang berdekatan (bintang kembar), salah satu bintang tersebut meledak
dan berkeping-keping. Akibat pengaruh grafitasi dari bintang kedua, maka
kepingan-kepingan itu bergerak mengelilingi bintang tersebut dan berubah
menjadi planet-planet. Sedangkan bintang yang tidak meledak adalah matahari.
· F. Teori Big Bang
Big Bang merupakan
petunjuk nyata bahwa alam semesta telah 'diciptakan dari ketiadaan', dengan
kata lain ia diciptakan oleh Allah. Karena alasan ini, para astronom yang
meyakini paham materialis senantiasa menolak Big Bang dan mempertahankan
gagasan alam semesta tak hingga. Alasan penolakan ini terungkap dalam perkataan
Arthur Eddington, salah seorang fisikawan materialis terkenal yang mengatakan:
"Secara filosofis, gagasan tentang permulaan tiba-tiba dari tatanan Alam
yang ada saat ini sungguh menjijikkan bagi saya".
Seorang materialis lain,
astronom terkemuka asal Inggris, Sir Fred Hoyle adalah termasuk yang paling
merasa terganggu oleh teori Big Bang. Di pertengahan abad 20, Hoyle mengemukakan
suatu teori yang disebut steady-state yang mirip dengan teori 'alam semesta
tetap' di abad 19. Teori steady-state menyatakan bahwa alam semesta berukuran
tak hingga dan kekal sepanjang masa. Dengan tujuan mempertahankan paham
materialis, teori ini sama sekali berseberangan dengan teori Big Bang, yang
mengatakan bahwa alam semesta memiliki permulaan. Mereka yang mempertahankan
teori steady-state telah lama menentang teori Big Bang. Namun, ilmu pengetahuan
justru meruntuhkan pandangan mereka.
Pada tahun 1948, Gerge
Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa setelah
pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang
ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini
haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. Bukti yang
'seharusnya ada' ini pada akhirnya diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti
bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja.
Radiasi ini, yang disebut 'radiasi latar kosmis', tidak terlihat memancar dari
satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa.
Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari
tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel
untuk penemuan mereka.
Pada tahun 1989, NASA
mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer. COBE ke ruang angkasa untuk
melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi
COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan
sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta.
Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini
dengan jelas membuktikan teori Big Bang.
Bukti penting lain bagi
Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam berbagai
penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta
bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa
peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan
jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah
habis sama sekali dan berubah menjadi helium.
Segala bukti meyakinkan
ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang
adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam
semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha
Perkasa dengan sempurna tanpa cacat.
G.
Teori Alam Yang Berosilasi (Oscillating
Theory).
Weinberg menggambarkan
bahwa alam semesta berkembang kempis, meledak dan berekspansi untuk kemudian
kembali lagi mengecil berulang-ulang tanpa awal dan tanpa akhir. Teori ini
jelas mencoba mengingkari Sang Kreator Agung sebagai pencipta alam
semesta yang memulai/menciptakan alam dari tiada menjadi ada.
H
.Teori Alam Dalam Keadaan Tetap (Steady
State Universe Theory)
Teori
Keadaan Tetap menyebutkan bahwa alam semesta selalu memuai dengan laju tetap
dan materi baru terus menerus tercipta. Akibatnya, dalam ruang tertentu selalu
dipadati oleh materi yang berjumlah tetap. Teori ini diajukan oleh ahli
kosmologi bangsa Inggris (Fred Hoyle, Herman Bondi dan Thomas Gold). Dikatakan
bahwa alam semesta ini tak berawal dan tak berakhir. Di mana-mana sama setiap
saat. Agar alam semesta selalu dalam keadaan begitu maka perlu diciptakan bahan
baru secara sinambung. Bahan baru ini menimbulkan tekanan yang memaksa alam
semesta memuai secara terus-menerus. Bahan baru tersebut selanjutnya memadat
menjadi galaksi untuk mengisi kekosongan yang ditimbulkan karena pemuaian.
Penciptaan zat berkesinambungan dalam
ruang angkasa yang nampaknya kosong itu, diterima secara skeptis oleh para
ahli, termasuk Wilson dan Penzias, ahli astronomi radio.
Dalam observasinya pada tahun 1964, kedua ilmuwan ini menemukan sisa radiasi
gelombang makro disegenap penjuru alam. Penemuan radiasi gelombang ini
merupakan efek dari ledakan dahsyat. Hal ini kemudian memperkuat teori Big
Bang. Karena berbagai fakta astrofisika ditemukan. Maka Hoyle dan para ilmuwan
yang sepaham dengannya, mulai meninggalkan teori keadaan tetap yang digagasnya
sendiri itu.
2.2
Pembentukan Alam Semesta Dalam Perspektif Sains
Pemahaman
manusia tentang alam semesta mempergunakan seluruh pengetahuan di bumi,
berbagai prinsip-prinsip, kepercayaan umum dalam sains (seperti ketidakpastian
Heisenberg tentang pengukuran simultan dimensi ruang dan waktu), serta berbagai
aturan untuk keperluan praktis. Melalui sebuah kerangka besar gagasan yang
menghubungkan berbagai fenomena (teori relativitas umum, teori kinetik materi,
teori relativitas khusus) coba dikemukakan satu penjelasan. Berbagai hipotesa,
gagasan awal atau tentatif dikemukakan untuk menjelaskan fenomena. Tentu
gagasan tersebut masih perlu diuji kebenarannya untuk dapat dikatakan sebuah
hukum.
Dunia
fisika membahas konsep energi, hukum konservasi, konsep gerak gelombang, dan
konsep medan. Pembahasan Mekanika pun sangat luas, dari Mekanika klasik ke
Mekanika Kuantum Relativistik. Mekanika Kuantum Relativistik mengakomodasi
pemecahan persoalan mekanika semua benda, Mekanika kuantum melayani persoalan
mekanika untuk semua massa yang kecepatannya kurang dari kecepatan cahaya.
Mekanika Relativistik memecahkan persoalan mekanika massa yang lebih besar dari
10-27 kg dan bagi semua kecepatan. Mekanika Newton (disebut juga
mekanika klasik) menjelaskan fenomena benda yang relatif besar, dengan
kecepatan relatif rendah, tapi juga bisa dipergunakan sebagai pendekatan
fenomena benda mikroskopik.
Mekanika statistik (kuantum klasik) adalah suatu teknik statistik untuk
interaksi benda dalam jumlah besar untuk menjelaskan fenomena yang besar, teori
kinetik dan termodinamik. Dalam penjelajahan akal manusia di dunia
elektromagnet dikenal persamaan Maxwell untuk mendeskripsikan kelakuan medan
elektromagnet, juga teori tentang hubungan cahaya dan elektromagnet. Dalam
pembahasan interaksi partikel, ada prinsip larangan Pauli, interaksi gravitasi,
dan interaksi elektromagnet. Medan menyebabkan gaya; medan-gravitasi
menyebabkan gaya gravitasi, medan-listrik menyebabkan gaya listrik dan
sebagainya. Demikianlah, metode sains mencoba dengan lebih cermat menerangkan
realitas alam semesta yang berisi banyak sekali benda langit (dan lebih banyak
lagi yang belum ditemukan).
Pengetahuan tentang luas alam semesta dibatasi oleh keberadaan objek
berdaya besar, seperti Quasar atau inti galaksi, sebagai penuntun tepi alam
semesta yang bisa diamati; selain itu juga dibatasi oleh kecepatan cahaya dan
usia alam semesta (15 miliar tahun). Itulah sebabnya ruang alam semesta yang
pernah diamati manusia berdimensi 15-20 miliar tahun cahaya. Namun, banyak
benda langit yang tak memancarkan cahaya dan tak bisa dideteksi keberadaannya,
protoplanet misalnya. Menurut taksiran, sekitar 90% objek di alam semesta belum
atau tak akan terdeteksi secara langsung. Keberadaannya objek gelap ini
diyakini karena secara dinamika mengganggu orbit objek-objek yang teramati,
lewat gravitasi.
Berbicara tentang daya objek, dalam kehidupan sehari-hari ada lampu
penerangan berdaya 10 watt, 75 watt dan sebagainya; sedangkan Matahari berdaya
1026 watt dan berjarak satu sa* dari Bumi, menghangatinya. Jika kita
lihat, lampu-lampu kota dengan daya lebih besarlah yang tampak terang. Menurut
hukum cahaya, terang lampu akan melemah sebanding dengan jarak kuadrat, jadi sebuah
lampu pada jarak 1 meter tampak 4 kali lebih terang dibandingkan pada jarak 2
meter, dan apabila dilihat pada jarak 5 meter tampak 25 kali lebih redup.
Maka, kemampuan mata manusia mengamati bintang lemah terbatas. Ukuran
kolektor cahaya juga akan membatasi skala terang objek yang bisa diamati. Untuk
pengamatan objek langit yang lebih lemah dipergunakan kolektor atau teleskop
yang lebih besar. Teleskop yang besar pun mempunyai keterbatasan dalam
mengamati obyek langit yang lemah, walaupun berhasil mendeteksi obyek langit
yang berjuta atau bermiliar kali lebih lemah dari bintang terlemah yang bisa
dideteksi manusia. Makin jauh jarak galaksi, berarti pengamatan kita juga merupakan
pengamatan masa silam galaksi tersebut. Cahaya merupakan fosil informasi
pembentukan alam semesta yang berguna, dan manusia berupaya menangkapnya untuk
mengetahui prosesnya hingga takdir di masa depan yang sangat jauh, yang akan
dilalui melalui hukum-hukum alam ciptaan-Nya. Pengetahuan kita tentang hal
tersebut sangat bergantung pada pengetahuan kita tentang hukum alam
ciptaan-Nya; sudah lengkap dan sudah sempurnakah, ataukah baru sebagian kecil,
sehingga mungkin bisa membentuk ekstrapolasi persepsi yang salah.
BAB 3.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan tentang
perkembangan pemikiran tentang terbentuknya alam raya, yang diungkapkan melalui
pendapat / pemikiran dari berbagai peradaban bangsa, teori-teori yang
dikemukakan dari beberapa ilmuan serta dari pandangan Islam berdasarkan
Al-Quran, maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan tentang pemikiran tentang
terbentuknya alam semesta sudah sejak lama telah menjadi bagian pemikiran
manusia, begitu juga pendapat-pendapat dari berbagai peradaban bangsa, begitu
banyak teori-teori yang muncul tentang terbentuknya alam raya ini.
Dari sekian banyak teori-teori
yang dikemukakan oleh para ilmuan ternyata ilmuan modern menyetujui bahwa Teori
Ledakan Maha Dahsyat (Teori Big Bang) merupakan satu-satunya penjelasan masuk
akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana
alam semesta muncul menjadi ada. Namun perlu kita sadari bahwa jauh sebelum
para ahli mengemukakan teori Big Bang, ayat-ayat Al-Quran telah secara jelas
menceritakan bagaimana alam semesta ini terbentuk dalam 6 masa.
Saran
Demikian, sebagai umat muslim
yang berpegan teguh kepada Al Qur’an maka hendaklah kita menjaga, merawat, dan
melestarikan alam ciptaan Allah ini. Semoga Allah SWT. melimpahkan rahmat-Nya
untuk kita semua, Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Trianto. 2007. Wawasan
Ilmu Alamiah Dasar Prespektif Islam dan Barat. Jakarta: Prestasi Pustaka
Baiquni, Ahmad.
1997. Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman. Yogyakarta: PT. Dana
Bhakti Primayasa
Mawardi, Nur
Hidayat. 2000. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu
Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: CV Pustaka Setia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar